PT Vale Kembangkan Tambang dan Smelter HPAL di Blok Tanamalia
PT Vale Indonesia Tbk. mengembangkan tambang baru di Blok Tanamalia yang mengandung bijih nikel kadar rendah sebagai bahan baku baterai mobil listrik, sejalan dengan meningkatnya permintaan produk mixed hydroxide precipitate (MHP) dan mixed sulfide precipitate (MSP), dilansir dari Bloombergtechnoz.
Blok Tanamalia sudah masuk dalam konsesi PT Vale sejak era kontrak karya saat perusahaan masih bernama PT International Nickel Indonesia (INCO), namun pengembangan baru digencarkan karena cadangan bijih nikel kadar tinggi di Blok Sorowako mulai menipis.
Ketua Umum Perhapi Sudirman Widhy Hartono menyatakan, "Saat ini memang waktu yang tepat bagi perusahaan-perusahaan tambang nikel seperti PT Vale untuk melakukan pengolahan bijih nikel kadar rendah ini sehubungan dengan digencarkannya program produksi baterai nasional yang dicanangkan pemerintah."
Sudirman menambahkan, pengembangan Blok Tanamalia baru dapat dilakukan setelah PT Vale memperoleh izin persetujuan penggunaan kawasan hutan (PPKH) dari Kementerian Kehutanan pada medio 2025. "Sehingga Blok Tanamalia ini memang baru dapat dilakukan kegiatan eksplorasinya setelah PPKH tersebut available," ujarnya.
Blok Tanamalia merupakan bagian dari izin usaha pertambangan khusus (IUPK) PT Vale yang meliputi tiga subblok dengan luas total lebih dari 13.500 hektare dan berada di kawasan hutan Sorowako dengan izin eksplorasi lanjutan seluas 17.239 hektare.
Pengembangan tambang kini berada pada tahap studi front end loading (FEL) II yang mencakup analisis kelayakan, aspek teknis, operasional, legal, serta lingkungan dan sosial (ESG). Jika kandungan nikel memadai, konstruksi diperkirakan dimulai pada 2027—2028 dan penambangan awal pada 2031.
Presiden Direktur PT Vale Bernardus Irmanto mengonfirmasi bahwa pengembangan smelter HPAL yang terintegrasi dengan tambang akan dilakukan bersama mitra dari perusahaan otomotif Eropa. "Nanti gini, kalau itu memang sudah formal, pasti kan di-announce kan. Ini kan ada confidentiality segala macam kan, jadi saya enggak bisa ngomong banyak sih," katanya.
Associate Energy Analyst Kementerian ESDM Fitria Astuti Firman menyatakan pemerintah sedang menyusun standar ESG nasional untuk mengakomodasi investor asing di sektor mineral kritis. Dia menyebut Volkswagen tertarik pada proyek PT Vale dengan syarat kepatuhan ESG ketat. "Langkah ini krusial agar produk mineral Indonesia dapat diserap oleh rantai pasok global," ujar Fitria.
Berdasarkan data Kementerian ESDM dan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), industri pemurnian nikel di Indonesia masih didominasi oleh smelter RKEF dengan sekitar 49 unit beroperasi. Sedangkan smelter HPAL yang beroperasi hanya sekitar 6-7 fasilitas, meski proyek baru terus dibangun untuk memenuhi target kapasitas mendatang.
Smelter HPAL menggunakan metode hidrometalurgi dengan ekstraksi asam sulfat bertekanan tinggi untuk memproses bijih nikel limonit menjadi bahan baku utama baterai kendaraan listrik seperti MHP dan nickel sulfate.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow