Rupiah Melemah Dipicu Data Ekonomi dan Ketidakpastian Timur Tengah
Rupiah membuka perdagangan dengan pelemahan 0,11% ke posisi Rp17.937 per US$, menyusul pelemahan sebagian mata uang Asia lainnya, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.
Tekanan pada rupiah datang dari sentimen domestik dan eksternal. Secara domestik, pasar tengah memproses data ekonomi, khususnya capaian ekspor, yang berdampak pada posisi cadangan devisa Indonesia.
Pasar juga menanti keputusan Presiden Prabowo Subianto mengenai calon Gubernur Bank Indonesia (BI) yang akan diumumkan segera.
Dari sisi eksternal, ketidakpastian prospek dan arah kesepakatan di Timur Tengah menjadi faktor signifikan. Presiden AS Donald Trump menyatakan kesepakatan terkait Selat Hormuz sudah dekat dan pemerintahannya terus berkomunikasi dengan Iran.
"Kami sedang berbicara. Kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi," ujar Trump dalam kampanye di Las Vegas, seperti dikutip Bloomberg News.
Namun, Trump sebelumnya beberapa kali mengklaim terobosan diplomatik yang belum menghasilkan kesepakatan permanen. Pernyataan ini memicu kenaikan harga minyak menjadi US$83 per barel dari posisi US$79,6 per barel sebelumnya.
Ketidakpastian ini membuat beberapa mata uang Asia melemah, dengan peso Filipina memimpin pelemahan sebesar 0,35%, diikuti baht Thailand, rupiah, dan ringgit Malaysia. Sebaliknya, won Korea Selatan menguat paling tajam, diikuti dolar Taiwan, yuan China, dan yen Jepang.
Dari sisi fundamental, ruang apresiasi rupiah diperkirakan terbatas karena sektor eksternal yang belum pulih. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekspor hanya tumbuh 4,13%, sementara impor naik 8,82%.
Defisit neraca migas melebar hingga US$15,77 miliar, menggerus hampir seluruh surplus non-migas sebesar US$19,35 miliar sehingga surplus perdagangan nasional menyusut menjadi US$3,58 miliar.
Tekanan pada rupiah juga berpotensi mempengaruhi pasar Surat Utang Negara (SUN). Lionel Priyadi, Fixed Income & Macro Strategist Mega Capital Sekuritas, memprediksi yield SUN tenor 10 tahun akan bergerak pada kisaran 7,3% hingga 7,35%, seiring rupiah yang diperkirakan terdepresiasi di rentang Rp17.950-Rp17.980 per US$.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow