Rupiah Menguat Didukung Meredanya Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga The Fed
Rupiah berpotensi menguat di pasar spot dengan meredanya kekhawatiran kenaikan suku bunga The Fed karena inflasi Amerika Serikat (AS) yang sesuai proyeksi, demikian dilansir dari Bloombergtechnoz.
Inflasi tahunan AS tercatat 3,4% dan inflasi inti 2,5%, memberikan kelegaan bagi investor setelah data ketenagakerjaan yang melemah. Peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September kini turun menjadi sekitar 40% setelah sebelumnya lebih tinggi.
Gary Schlossberg, global strategist di Wells Fargo Investment Institute, mengatakan, "Data inflasi dan laporan ketenagakerjaan yang lebih lemah dari perkiraan dapat membuat pejabat Fed yang hawkish tetap menahan diri pada September."
Penurunan peluang kenaikan suku bunga ini mengurangi tekanan selisih suku bunga (interest rate differential) yang selama ini mempengaruhi nilai tukar rupiah.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah Brent turun 0,76% ke US$88,27 per barel. Namun, Badan Energi Internasional (IEA) melaporkan defisit pasokan minyak global sebesar 1,8 juta barel per hari pada kuartal ini, yang tetap menjadi risiko utama bagi rupiah.
Perundingan antara AS dan Iran yang masih sulit juga menjadi perhatian investor, dengan Pakistan menyebut proses perdamaian telah terhenti meskipun tenggat waktu nota kesepahaman masih bisa diperpanjang.
Mayoritas mata uang Asia bergerak menguat pagi ini, dengan baht Thailand naik 0,23% dan won Korea Selatan 0,21%. Yen Jepang dan yuan offshore juga menguat meski lebih terbatas.
Penguatan rupiah juga didukung oleh penurunan indeks dolar AS sebesar 0,08% ke 99,94, selain meredanya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan harga minyak yang sedikit turun.
Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada proses pergantian pejabat di Bank Indonesia (BI), dengan Destry Damayanti sudah dipastikan mengisi posisi Gubernur BI.
Puan Maharani, Ketua DPR, mengungkapkan, "Dua nama calon Deputi Gubernur Bank Indonesia yaitu satu Bapak Solikin M. Juhro dan yang kedua adalah Bapak M. Anwar Bashori." Pekan depan, DPR akan melakukan uji kelayakan dan kepatuhan atas ketiga kandidat tersebut.
Pergantian kepemimpinan di BI diperkirakan akan menjadi katalis pasar keuangan domestik, dengan fokus pada kombinasi Gubernur dan Deputi Gubernur yang menentukan arah kebijakan moneter.
Namun, penguatan rupiah diproyeksikan terbatas karena harga minyak tetap menjadi risiko eksternal utama. Jika konflik AS-Iran memanas atau perundingan gagal, harga minyak bisa melonjak kembali dan menekan nilai rupiah.
Secara teknikal, rupiah berpeluang menguat ke resistance terdekat di Rp17.840 per US$, dengan target optimistis di Rp17.700 per US$. Jika melemah, support terdekat ada di Rp17.900 per US$ dan berikutnya di Rp17.950-18.000 per US$.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow