UI Tanggapi Data Jurusan Manajemen Paling Banyak Pengangguran
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI melaporkan bahwa jurusan manajemen menempati posisi tertinggi dalam pengangguran dengan angka 10,3%, menurut laporan berjudul 'Ketika Akses Pendidikan Tinggi Bertambah, Apakah Pasar Kerja Siap?' yang dilansir dari Detikcom.
Rektor Universitas Indonesia, Prof Heri Hermansyah, menyatakan bahwa tingginya angka pengangguran jurusan manajemen disebabkan oleh banyaknya jumlah lulusan dari jurusan tersebut yang bersifat general.
"Jurusan manajemen atau hukum itu ada di mana-mana (banyak universitas), populasinya sangat besar. Jadi secara general, bisa jadi angkanya terlihat tinggi karena jumlah lulusannya memang masif," ujar Heri usai acara Temu Akbar Guru Besar UI di Gedung Makara Art, Depok, Jawa Barat.
Heri juga mengungkapkan data internal UI yang menunjukkan rata-rata masa tunggu lulusan untuk memperoleh pekerjaan hanya 2-3 bulan. Ia menambahkan bahwa jurusan spesifik seperti Aktuaria dan Administrasi Fiskal sangat diminati industri.
"Di UI, jurusan Manajemen tidak mengalami kesulitan. Justru yang menarik adalah jurusan spesifik seperti Aktuaria atau Administrasi Fiskal. Sebelum mereka wisuda, bahkan baru selesai sidang, perusahaan-perusahaan sudah 'mengijon' mereka, banyak yang langsung direkrut di tempat mereka magang sebelumnya," tutur Heri.
Untuk mengatasi pengangguran, UI menerapkan strategi penguatan relevansi kurikulum dan karakter mahasiswa. Ketua Dewan Guru Besar UI, Prof Eko Prasojo, menjelaskan bahwa kurikulum terus disesuaikan dengan kebutuhan profesi masa depan.
"Mahasiswa harus memiliki kemampuan berbicara, menulis, memimpin, hingga berinteraksi dengan orang lain. Soft skill inilah yang seringkali menjadi penentu lulusan bisa bertahan dan berkompetisi di dunia kerja," kata Eko.
Eko juga mengingatkan pentingnya peran pemerintah dalam memperbaiki ekosistem industri agar menyerap tenaga kerja terdidik, selain tugas universitas memastikan relevansi lulusan.
"Tugas universitas adalah memastikan lulusan tetap relevan. Namun, pemerintah juga perlu memperbaiki ekosistem industri agar investor mau masuk dan menyerap tenaga kerja terdidik kita," ujar Eko.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow