IHSG Menguat 1,69 Persen Didukung Saham Big Caps Jelang Pengumuman MSCI
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,69% ke posisi 6.373 pada perdagangan Rabu, 12 Agustus 2026, di Bursa Efek Indonesia, menunjukkan optimisme pasar menjelang pengumuman rebalancing indeks MSCI.
Penguatan IHSG ini menjadi yang tertinggi kedua di Bursa Asia, menyusul KOSPI Korea Selatan yang melonjak 3,68%, sebagaimana dilansir dari Bloombergtechnoz.
Volume transaksi saham mencapai 34,46 miliar dengan nilai transaksi sebesar Rp17,38 triliun, dan frekuensi perdagangan sebanyak 2,09 juta kali. Dari total saham yang diperdagangkan, 452 saham menguat, 175 saham melemah, dan 168 saham tidak bergerak.
Saham sektor infrastruktur, energi, dan barang baku menjadi kontributor utama dengan kenaikan masing-masing sebesar 4,73%, 3,35%, dan 2,34%.
PT Barito Renewables Energy Tbk menjadi penyumbang poin terbesar bagi IHSG dengan 17,11 poin, diikuti PT DCI Indonesia Tbk (10,93 poin), PT Barito Pacific Tbk (7,58 poin), dan beberapa saham big caps lainnya seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk dan PT Bank Central Asia Tbk.
Saham unggulan LQ45 seperti PT Indosat Tbk dan PT XLSMART Tbk juga mencatat lonjakan signifikan masing-masing 14,4% dan 6,22%, serta PT Darma Henwa Tbk naik 5,44%.
Investor menunjukkan optimisme tinggi menjelang pengumuman rebalancing indeks MSCI pada Kamis, 13 Agustus 2026, yang akan efektif mulai 1 September 2026, menurut Phintraco Sekuritas.
"Sehingga diperkirakan IHSG berpotensi menguji level 6.400 pada perdagangan Kamis," ujar analis dari Phintraco Sekuritas.
Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai hasil review MSCI akan menentukan arah pasar, apakah mendapat kejutan positif, netral, atau negatif.
"Jika hasilnya positif, ada potensi rally, terutama saham big caps dengan fundamental kuat," kata Mirae Asset Sekuritas.
Namun, jika kebijakan freeze tetap dipertahankan tanpa eskalasi risiko, pasar diperkirakan melakukan akumulasi selektif. Sebaliknya, jika ada peningkatan risiko reclassification, para pelaku pasar akan mengurangi eksposur pada saham bermasalah free float dan likuiditas.
BRI Danareksa Sekuritas menyarankan investor untuk mengkaji kebijakan Foreign Inclusion Factor dan Number of Shares pada indeks MSCI.
"Base case, freeze bertahan Agustus ini, pelonggaran substantif baru mungkin muncul di Market Accessibility Review berikutnya," kata BRI Danareksa Sekuritas.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow