Pemilik Bayan Resources Negosiasi Jual Saham Mayoritas ke Konsorsium Haji Isam
Pemilik PT Bayan Resources Tbk tengah bernegosiasi menjual saham mayoritas perusahaan tambang batu bara senilai US$28 miliar kepada konsorsium yang dipimpin oleh taipan pesaing, Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam, dilansir dari Bloombergtechnoz.
Miliarder Low Tuck Kwong yang memiliki 40% saham Bayan, bersama putrinya yang menguasai 22% saham, sedang berdiskusi dengan calon pembeli tersebut. Sumber lain juga menyatakan minat terhadap saham Bayan, namun pembicaraan masih berlangsung dan belum pasti mencapai kesepakatan.
Harga transaksi kemungkinan akan di bawah harga pasar karena porsi saham yang tersedia untuk diperdagangkan publik sangat rendah, menurut sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut.
Dalam pernyataan resmi awal bulan ini, Bayan Resources menyatakan tidak mengetahui adanya rencana pengambilalihan atau akuisisi saham perusahaan. Juru bicara Bayan mengonfirmasi kembali pernyataan tersebut saat dihubungi.
Transaksi ini terjadi di tengah tekanan yang dialami industri batu bara Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, termasuk pemangkasan kuota produksi untuk menaikkan harga dan denda besar akibat pelanggaran izin kehutanan.
Para pemilik perusahaan tambang juga menghadapi tekanan untuk membeli "obligasi patriot" dengan tingkat bunga rendah dari Danantara, lembaga investasi milik negara baru. Selain itu, mereka menghadapi pemeriksaan pajak lebih ketat dan penyitaan lahan perkebunan kelapa sawit dalam skala besar.
Jika akuisisi berhasil, Haji Isam akan menjadi salah satu taipan batu bara terbesar di Indonesia karena konglomerasinya saat ini juga merupakan penambang utama di sektor tersebut.
Kekayaan Haji Isam meningkat sejak Prabowo menjadi presiden pada 2024, dengan perusahaannya memperoleh sejumlah proyek pemerintah penting, termasuk proyek food estate berskala besar di Papua.
Bagi Low Tuck Kwong, yang lahir di Singapura, transaksi ini akan mengakhiri kariernya selama beberapa dekade memimpin Bayan Resources. Ia memulai bisnis batu bara di Indonesia pada 1990-an dengan membeli konsesi batu bara di Kalimantan dan mengembangkan Bayan menjadi produsen batu bara terbesar dan paling menguntungkan dengan kapasitas produksi lebih dari 50 juta ton.
Kwong tetap fokus memperkuat bisnis batu baranya, tidak seperti perusahaan tambang lain di Indonesia yang mulai diversifikasi ke komoditas lain seperti emas dan aluminium.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow